Saturday, August 20, 2016

Pasta Schotel dan Cara Terbaik Minum Wine (Menurut Hostdad)


Di suatu petang saya dan host family makan malam bersama. Hari itu saya memasak pasta schotel atas permintaan si hostkid. 

Awalnya saya mengumpulkan beberapa lembar resep yang saya ambil dari supermarket Albert Heijn. Hal itu atas saran hostdad agar saya punya variasi masakan tiap harinya. Bahkan dia sendiri yang mengajukan bantuan menerjemahkan resepnya karena hanya tersedia dalam bahasa Belanda. Baiklah, pikir saya. Sampai di rumah, saya menunjukkan beberapa resep itu pada hostkids and let them decide which one they want to have for the next day. Si J memilih pasta schotel. Resepnya berbahasa Belanda jadi malam harinya saya minta hostmom untuk mengartikan dan menunjukkan bahan-bahan apa saja yang dibutuhkan. 

Keesokan harinya, seperti biasa, setelah mengantar anak-anak ke sekolah saya pergi ke supermarket untuk membeli segala keperluan dapur, terutama bahan-bahan untuk makan malam. Bahan-bahan pasta schotel kini telah siap. Sore harinya, setelah menjemput anak-anak dari sekolah, saya mulai meracik bahan-bahan tersebut. Seperti janji hostdad yang ingin membantu menerjemahkan resep, bertanyalah saya padanya. Sayang sekali, dia terlihat sibuk sekali di depan layar komputer, skype dengan rekan kerjanya (Dia memang selalu begitu kalau di rumah, sepanjang hari di depan layar komputer membahas bisnisnya). Merasa tidak enak, saya urungkan niat untuk bertanya. Tapi bagaimana ini? Bahan-bahan sudah terbeli dan siap pakai, kalau tidak dimasak kan sia-sia. Terpaksa saya menggunakan google translate dengan hasil yang acak-acakan namun cukup membantu demi memahami sebuah resep makanan yang asing di Indonesia, asing di lidah, dan asing di masak oleh orang Indonesia. 

Akhirnya pasta schotel hasil mengikuti resep dari google translate pun jadi. Perpaduan pasta, krim dan sosis terlihat nikmat sekali meski sebenarnya saya ragu mereka akan suka. Tak disangka-sangka, si J mengatakan kalau masakan saya enak sekali. Awwww... What a compliment! Ini pujian luar biasa. Thanks to J, jij bent lief. 

Sehabis makan malam kami minum wine (tentu tanpa anak-anak). Saya kurang tahu jenisnya, yang penting minum saja hehe. Si hostdad menuang sedikit di gelas saya. Kami pun bersulang dan meneguknya. Tiba-tiba kepala saya terasa aneh, mata saya tidak bisa melihat dengan fokus. Rasanya seperti berputar.

"Kamu kenapa?" tanya Hostdad.
"Kepalaku pusing nih." sahut saya. 
"Jelas saja, kamu minum wine kayak minum teh saja." jawabnya sambil melihat isi gelas saya yang sudah hampir kosong.
"Gini nih cara terbaik minum wine..." jelasnya sembari memperagakan. "Pertama, taruh hidung di pinggiran gelas dan hirup baunya demi mendapatkan rasa. Lalu, teguk sedikit demi sedikit." lanjutnya. 
"Jangan langsung ditenggak begitu saja." si Hostmom menyahut.

"Ooo..gitu." ucap saya pasrah.

Credit:
1. www.huffingtonpost.com

Friday, April 8, 2016

Parijs!


Ini lagu berbahasa Belanda pertama yang saya dengar. Dan langsung jatuh cinta! Awww... Awal cerita saya mendengar lagu ini ketika mengantar hostkid les gitar.  Jumat sore saya mengantar A menuju tempat les gitar yang berjarak 15 menit jauhnya. Seperti biasa, kami bersepeda dan saya menggendong gitarnya di punggung. Studio tempat A berlatih hanya cukup untuk berdua sebenarnya, tapi dicukup-cukupin buat bertiga karena tidak mungkin saya balik ke rumah mengingat lesnya hanya setengah jam. Mau tahu berapa biaya les per pertemuan selama hanya setengah jam itu? 17 Euro! Ulala sekali, bukan? Pelatihnya seorang lelaki berambut pirang sebahu. Saya lupa namanya, tapi gak lupa gantengnya hehe. Saat les lah saya mendengar lagu itu dan enak banget musiknya. Sepulang dari les si A selalu nyanyiin lagu itu sepanjang jalan, mau gak mau saya kebawa situasi buat ikut nyanyi dong meski masih suka keserimpet lidahnya. 

Lagu itu akhirnya jadi lagu kebangsaan semasa di Belanda bahkan sampai sekarang pun masih. Tiap di rumah pasti deh nyetel lagu itu lewat spotify sambil nyanyi-nyanyi. Oh ya, ini lagu judulnya Parijs (Paris) dinyanyikan oleh seorang pria Suriname. Saya gak tahu cerita tepatnya, tapi lagu ini mengisahkan seseorang yang menemukan wanita idamannya di Paris. Romantis, kan? Aaaakkk, jadi keinget kan kalo saya belum sempat ke Paris huhu. Coba deh liat videonya dan dengar musiknya. Meski gak ngerti ngomong apa tapi dijamin seru dan kerasa banget romantisnya kota Paris.


Geniet ervan!

Thursday, April 7, 2016

Kisah Pencarian Keluarga di Belanda (1)


Beberapa hari setelah tiba di Belanda, saya menyatakan keinginan pada hostfamily untuk mencari keluarga (agak jauh) di Belanda, tepatnya di kota Apeldoorn. Syukurlah mereka sangat mendukung tindakan saya dan malah membantu saya dalam mencari keluarga yang sama sekali belum pernah saya temui hanya demi menjalin ikatan persaudaraan antara keluarga di Indonesia dan keluarga di Belanda. Bisa dikatakan saya mencoba menjalin kembali hubungan surat-menyurat yang dilakukan Kakek saya dan Opa di Belanda semasa mereka masih hidup.

Hubungan keluarga ini berakar dari hubungan darah antara Mbah Putri (dari Bapak) dan Adiknya yang menikah dengan pria keturunan Belanda, yang akhirnya mereka putuskan untuk menapaki hidup di negeri kincir angin tersebut. Tahu apa? Persoalan silsilah yang rumit ini justru baru saya ketahui setelah bertemu dengan keluarga di Belanda haha. 

Semasa Kakek masih hidup, beliau nampaknya aktif berkirim dan bertukar surat dengan Opa di Belanda (menurut cerita si Bapak). Hal ini dibuktikan dengan setumpukan foto keluarga Belanda yang tersimpan rapi di lemari rumah. Selain itu, jajaran perangko bertuliskan Holland juga melekat rapi pada album perangko yang kini masih tersimpan walau sedikit berdebu. Hingga suatu hari datanglah sepucuk surat beralamat sebuah kota di Belanda. Surat itu tak bertuliskan tangan dan berpenampilan sedikit lebih formal. Tak menguntungkan, isi surat dituliskan dalam bahasa Belanda! Jelas kami tak mengerti. Setelah Ibu berlari menuju Seminari, yang menurut penuturan orang ada seorang Pastor disana yang bisa mengerti bahasa Belanda, barulah kami mengetahui isi surat itu. Surat tersebut mengabarkan berita duka, Oma di Belanda meninggal. Disitu pula tertulis lengkap jajaran silsilah keluarga mereka. Saya pun berinisiatif membalas surat tersebut, menyatakan rasa bela sungkawa dan tak lupa mengabarkan bahwa Kakek telah lebih dulu meninggal. Sejak saat itulah perkenalan saya dengan keluarga disana dimulai lewat sepucuk surat. Sejak saat itu pula terlintas pikiran untuk bisa terbang ke Belanda dan menemui mereka. Terlebih demi mewujudkan impian terbesar dalam hidup saya: pergi ke luar negeri! Semuanya menjadi nyata di tahun 2015. Sebelum berangkat ke Belanda, saya telah lebih dulu menyiapkan surat dari Opa lengkap dengan alamatnya. Ini sangat penting sekali karena tak ada apapun yang saya punyai demi menemukan mereka kecuali barisan alamat itu. 

Kurang lebih dua minggu di Belanda, saya mencoba mengirim surat pada mereka. Saya tuliskan bahwa saat ini saya ada di Belanda dan ingin sekali bisa menemui mereka. Tak lupa, saya tuliskan pula nomor HP dengan maksud balasan dari mereka akan lebih mudah dan lebih cepat diterima. Surat itu saya masukkan ke dalam amplop persegi yang tergeletak di sebuah rak di pojok kamar. Sebenarnya itu bukan amplop pada lazimnya ketika berkirim surat, tetapi amplop pembungkus kartu ucapan. Yah, cuma itu yang ada dan saya tak tahu dimana membeli amplop. Sepulang mengantar anak-anak ke sekolah, seperti biasa saya mampir ke Albert Heijn untuk berbelanja. Namun hari itu, saya tak lupa membawa surat untuk dikirim. Selesai dengan kebutuhan belanja, saya menuju counter pengiriman surat. Disitu surat lantas ditimbang dan membayar sekitar 0.80 Euro (kalau tidak salah). Lalu dimasukkan pada kotak surat berwarna oranye di pojok dekat pintu masuk. Setiap hari saya menilik kotak pos depan rumah, tapi tak satu pun surat ditujukan pada saya. Hingga suatu hari saya begitu kecewa dan sedih karena surat yang saya kirim justru kembali lagi pada saya.

to be continued...

Saturday, April 2, 2016

Qatar Airways: Terjangkit Sesal Menolak Kelas Bisnis Qatar Airways (3)


Tiga jam sebelum keberangkatan, saya telah tiba di Bandara Soekarno-Hatta, Terminal 2 untuk penerbangan internasional. Saya langsung menyodorkan tiket pada petugas untuk melakukan check in. Mengingat ini bandara internasional, terlebih di area keberangkatan dan kedatangan internasional, tak heran ada begitu banyak orang asing berlalu lalang. 

Meski saat itu counter Qatar Airways belum buka, saya tetap mengantri bersama beberapa orang lainnya. Setelah menunggu beberapa saat, antrian sudah mulai bergerak. Saya lihat satu atau dua orang digeser ke meja sebelah karena mungkin ada beberapa kesalahan teknis yang harus diselesaikan. Hal ini membuat saya sedikit khawatir. Benar saja, giliran saya maju, setelah petugas mengecek, saya juga ikut digeser ke meja sebelah. Kenapa ini? Padahal semuanya sudah lengkap. 


Seorang petugas wanita lantas berbicara dengan saya bahwa ada seorang penumpang yang harus buru-buru pergi namun sudah tidak mendapat seat. Dia lantas ingin mengambil seat saya dalam perjalanan Jakarta-Doha. Sebagai kompensasi mereka akan meng-upgrade kelas ekonomi saya ke kelas bisnis dan imbalan uang senilai $250, namun jadwal keberangkatan saya akan berubah menjadi pukul 12 malam. Mereka juga menjelaskan bahwa penerbangan tersebut tidak akan mengganggu jadwal penerbangan saya berikutnya, yaitu Doha-Amsterdam. Pikiran saya benar-benar kalut saat itu. Ini pertama kalinya saya naik pesawat overseas dan tiba-tiba ada penawaran upgrade kelas dan imbalan sejumlah uang yang tidak sedikit. Ini beneran atau bohongan ya? Dalam pikiran yang buntu, mereka terus berusaha membujuk saya. Bahkan seandainya saya tidak mendapat pesawat untuk Doha-Amsterdam, mereka bisa menjamin akan mencarikan pesawat lain, yaitu Singapore Airlines. Saya yang masih sangat awam soal pesawat waktu itu tidak tahu kalau kedua pesawat itu merupakan pesawat terbaik semua. Yang mendominasi pikiran saya saat itu: Bagimana kalau bohong? Terus gak bisa sampai Amsterdam? Terus gak punya duit buat pulang? Seandainya saya tahu kalau Qatar Airways pesawat elit, tak akan pernah saya sia-siakan kesempatan seperti itu. Kapan lagi coba?


Akhirnya saya putuskan untuk berbicara dengan keluarga dulu. Saya keluar dan menemui mereka. Saya ceritakan kasus ini se detail mungkin. Si pacar sangat mendukung, toh tidak ada ruginya, malah justru dapat imbalan yang tidak main-main bagi orang seperti saya. Tapi di lain pihak, Om saya berkata lain. Keraguan dan ketakutan saya mengambil kesempatan justru mengarahkan saya menuju sesal. Saya katakan tidak akan menukar seat meski petugas Qatar telah membujuk saya berulang kali. 


Kasus ini lantas saya ceritakan pada beberapa teman di Belanda. Pernyataan mereka malah bikin saya makin menyesal. Bahkan, seorang teman membicarakan ini pada hostmom-nya. Katanya dia sangat menyayangkan keputusan saya. Seandainya dia jadi saya, dia akan ambil kelas bisnis itu dan menggunakan uangnya untuk shopping. Begitu jelas teman saya. Saya cuma bisa senyam-senyum kesal tapi benar juga yang dia bilang. Hostdad saya sendiri pun berulang kali membahas persoalan ini ketika kami mengobrol. 


Katanya, "Sayang banget kelas bisnisnya dilepas. Kamu beruntung loh bisa naik Qatar, aku aja malah belum pernah."


Arrggghhh, nyebelin!



Credit:1. https://glamshelf.com/33-outstanding-colors-and-details-of-natural-landscapes/2/

Thursday, March 31, 2016

Qatar Airways: Nggembel 10 Jam di Doha Airport (2)


Meski sudah membekali diri dengan berbagai informasi transit dan kebandaraan, dan selengkap apapun informasi yang didapat, tetap saja itu hanyalah sepenggal teori yang tak bisa membendung rasa gugup dan cemas. 

30 menit sebelum landing, gemerlap kota Doha, Qatar tampak indah dari atas. Ha! Rasanya tercekat tak karuan. Saya sudah memasuki langit negeri asing, sebentar lagi menjejak tanahnya. Tak bisa dipercaya! 

Pesawat mendarat dengan mulus. Pramugari bersiap di samping pintu keluar dan mempersilakan penumpang kelas bisnis turun terlebih dulu. Ketika menuruni tangga pesawat, beberapa shuttle bus berwarna putih siap mengantar para penumpang menuju arrival gate yang ditempuh dalam waktu 15 menit. Saya termasuk dalam rombongan terakhir, berdiri di dalam bus bersama para penumpang asing lainnya. Rasanya ingin menangis, antara sedih karena sendirian dan sedih terharu bangga. 

Kebingungan menjalar tatkala sampai di tempat kedatangan. Yah, tak ada yang bisa dilakukan kecuali mempercayakannya pada insting. Saya putuskan mengikuti ke mana arah rombongan pergi. Sesungguhnya, khawatir itu tak perlu terjadi. Banyak petugas bandara yang dengan senang hati melayani penghuni bandara. Mereka sangat ramah, informatif dan sangat sangat membantu. Para penumpang transit di arahkan mengambil eskalator menuju lantai atas. Disana saya ikut mengular panjang dalam antrian. Karena ragu, saya beranikan diri bertanya pada seorang petugas terdekat. Saya katakan bahwa saya transit selama 10 jam dan apa yang harus saya lakukan. Lelaki keturunan India itu mengarahkan saya menuju counter disisi kiri antrian, dimana saya bisa book hotel mengingat waktu transit saya yang lama. Sayang, tak ada hotel available. 

Sebenarnya, untuk waktu transit diatas 8 jam, terdapat fasilitas Doha city tour. Kita akan diajak oleh petugas mengelilingi kota Doha GRATIS. Lumayan bukan? Banget! Sayang sekali jadwal tiba saya di Doha sudah larut, jadi kesempatan mengeksplorasi kota Doha pupus sudah.

Wanita penjaga counter lantas mengarahkan saya untuk turun menuju kawasan duty free bandara dan mencari sleeping area untuk istirahat. Sudah berputar kelelahan mencari tapi tak mendapat solusi, saya bertanya pada seorang petugas yang lewat. Ternyata oh ternyata, jalan turunnya harus melewati pengecekan tempat saya ikut mengantri tadi. Huft. Leganya bisa mendapati kawasan duty free. 

Saya melangkah menuju Hall yang sangat luas yang berada di tengah-tengah Gate A, B, C, D dan E. Beragam toko berjejer mendagangkan produknya. Bukannya mencari sleeping area, saya malah menuju internet area yang dilengkapi dengan kursi, meja dan beberapa unit komputer. Tepat disebelahnya terdapat arena bermain untuk anak-anak. Browsing dan update status di facebook merupakan satu cara membunuh waktu dan mengusir kebosanan. 

Jalan-jalan di bandara sudah, main komputer sudah, ah tapi waktu masih terasa lama sekali. Lelah dan kantuk mulai menjalar. Karena mengantuk dan tidak menemukan sleeping area, area TV pun sudah penuh orang molor, jadilah saya cuma bisa duduk menaruh kepala di meja di area internet dan berusaha memejamkan mata. 1 jam, 2 jam, 3 jam, kini jam di HP sudah menunjukkan pukul 4 pagi. 

Badan terasa pegal-pegal karena tidur dalam posisi duduk. Lebih baik jalan-jalan lagi menyusuri bandara, pikir saya. Sebelumnya, saya cek papan informasi penerbangan yang bisa di cek dimanapun dengan mudah. Penerbangan saya berikutnya berada di Gate A7. Maka sebaiknya saya menuju sana, berjalan menyusuri lorong Gate A yang cukup panjang. Pada jam-jam ini bandara tampak sedikit lengang. Kebanyakan masih nyenyak dan hanya beberapa yang mondar-mandir. Mendekati Gate A7, terlihat sebuah ruangan cukup besar disisi kiri berisi jajaran sofa dan orang tertidur nyenyak diatasnya. Ah! Ternyata inilah sleeping area yang saya cari-cari. Kenapa baru sekarang ketemunya? Inginnya sih tidur lagi, memanjakan badan dengan empuknya sofa. Tapi apa daya, mata sudah terlanjur benderang.

Penantian boarding hanya dihabiskan dengan duduk-duduk atau melihat-lihat cinderamata Qatar. Bisa ditebak, temanya kurang lebih unta semua haha. Merasa haus, saya membeli air mineral dengan selembar 5 euro yang saya bawa dari Indonesia. Sisa kembalian dibayar dengan tiga lembar 1 dollar dan selembar riyal. Gak nyambung sama sekali haha.

Akhirnya saat boarding tiba. Saya berkenalan dan berbincang dengan seorang wanita palestina. Ia hendak melanjutkan studinya di Eropa. Perpisahan kami diakhiri dengan camilan dried fruit yang ia bawa dari negaranya.